Langsung ke konten utama

Temui Aku di Telaga

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya aku telah mendahului kalian menuju al-haudh…”
(HR. Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d).

Wahai umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam..
Maukah kalian menemui Nabi kita Shalallahu ‘alaihi wa sallam di Telaga Beliau?

Dan tahukah kalian bagaimana ciri serta keindahan Telaga Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Telagaku itu sepanjang perjalanan sebulan dan sudut-sudutnya sama.
Airnya lebih putih dari susu,
aromanya lebih harum dari kasturi, dan
pundi-pundinya bagai bintang-bintang di langit.
Siapa yang minum dari telaga itu tidak akan haus selamanya.”
(HR. Bukhari-Muslim)

Alangkah bahagianya jika kita dapat meneguk air dari telaga Nabi kita shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana setelah kita meneguk air dari telaga-nya kita tidak akan merasa haus selama-lamanya.

Namun, tahukah kalian?
Bahwa ada diantara umat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang terusir dan tidak berhak minum air dari telaga-Nya!

Tahukah kalian siapa yang terusir dari Telaga-nya?

Diriwayatkan oleh Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Saya akan berdiri di atas telaga Haudh kemudian saya akan melihat beberapa orang akan datang kepadaku diantara kalian, dan beberapa manusia dihalau dariku, dan
aku akan berkata:

“Ya Rabb, mereka dariku, dari ummatku”

Kemudian akan dikatakan:

“Apakah kamu mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu?
Demi Allah, mereka telah berbalik ke belakang “merubah ajaran agama sepeninggal beliau (Bid’ah)”
(Shahih Bukhari 8/121 No. 6593, Shahih Muslim 4/1794 No. 2293)

Sungguh amat merugilah mereka yang telah merubah ajaran agama sepeninggal beliau, sehingga mereka terusir dan tidak berhak minum air dari Telaga-nya.

Na’udzubillah.. Semoga kita tidak termasuk diantara mereka.

Maka,
janganlah kalian berbuat Bid’ah,
cukupkanlah diri kalian dengan Al-qur’an dan Sunnah yang di pahami oleh para Sahabat ridwanullah alaihim ajmain.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang berhak minum dari telaga-nya. Aamiin……

Postingan populer dari blog ini

kumpulan kata mutiara terbaru – kata-kata bijak nasehat islami – sms tausiyah

kumpulan kata mutiara terbaru – kata-kata bijak nasehat islami – sms tausiyah Syaikh ‘Abdul Maalik Al Qoosim: “Aku heran pada orang yang lima kali membasuh wajahnya setiap hari, memenuhi panggilan mu’adzdzin, tetapi tidak mencuci hatinya sekalipun dalam satu tahun agar menghilangkan kotoran ketergantungan terhadap dunia, kelamnya hati dan buruknya akhlaq.” “Semenjak kenal manusia, aku tidak senang pujian mereka, dan juga tidak benci celaan mereka.” Ada yang bertanya, “Kenapa bisa demikian?” beliau menjawab, “Karena mereka yang memuji itu berlebih-lebihan dan mereka yang mencela itu terlalu meremehkan.” -Malik bin Dinar-
(Shifatus Shafwah : III/276) “Sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang tidak menonjolkan diri, taqwa, & shalih. Apabila tidak hadir, mereka tak dicari cari. Apabila hadir mereka tak dikenali. Mereka bagaikan lentera lentera petunjuk yang menerangi setiap kegelapan.” (HR. Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib, hasan) ibnul qayyim al jauziyah berkata: “Sungguh suat…

kata mutiara – kumpulan kata-kata mutiara islami terbaru – kata mutiara cinta romantis islami – kata-kata mutiara bijak – kata mutiara islam – kalimat mutiara bijak

kata mutiara – kumpulan kata-kata mutiara islami terbaru
kata mutiara – kumpulan kata-kata mutiara islami terbaru – kata mutiara cinta romantis islami – kata-kata mutiara bijak – kata mutiara islam – kalimat mutiara bijak Ciri-ciri tidak ikhlas dalam beramal: bila dipuji.. tambah semangat. Bila tidak dipuji.. kurang semangat. Jika dicela.. patah semangat. Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.” “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan bena…